Sekjen PBB kecam keras serangan udara mematikan di Myanmar
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
Sekretaris Jenderung PBB Antonio Guterres mengutuk keras serangan udara militer Myanmar di Negara Bagian Rakhine yang menewaskan 50 warga sipil dan melukai hampir 60 orang lainnya pada 28 September di dekat pasar Kota Kalchau. Guterres menyerukan penghentian kekerasan untuk melindungi warga sipil dan meminta pertanggungjawaban dari pihak yang bertanggung jawab. Ia juga mendesak akses aman bagi PBB dan kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan di wilayah yang dibutuhkan.
Guterres menyampaikan kekhawatiran terkait pemulangan paksa sekitar 1.500 warga Myanmar oleh otoritas Malaysia, yang dilakukan melalui tiga kapal angkatan laut. Kelompok yang dipulangkan terdiri dari 1.370 laki-laki, 79 perempuan, 20 anak laki-laki, dan 7 anak perempuan berusia 8 hingga 60 tahun. Menurut hukum internasional, negara dilarang memulangkan individu ke tempat yang menghadapi ancaman nyawa atau penyiksaan.
Konflik bersenjata di Myanmar telah berlanjut selama bertahun-tahun, memanas setelah pemberontakan militer pada Februari 2021 menggulingkan pemerintahan terpilih. Rakhine, mayoritas penduduknya adalah komunitas Rohingya yang telah mengalami diskriminasi dan kekerasan. Ratusan ribu Rohingya telah dipaksa mengungsi ke negara-negara tetangga, termasuk Bangladesh dan Malaysia.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 29 September 2026 pukul 22.45
Malaysia Pulangkan 1.476 Warga Myanmar, Gelombang Pertama Dimulai
Berita terkait
Dunia Kehilangan Jalan Pulang kepada Perdamaian
SINDOnews · 21 September 2026 pukul 12.56
Myanmar Akui 309 Ribu Pengungsi Rohingya sebagai Mantan Penduduk Rakhine
Media Indonesia · 17 Agustus 2026 pukul 16.03
Presiden Iran Bantah Tuduhan soal Rencana Pembunuhan Trump
Detik.com · 28 September 2026 pukul 09.30
Yaman Kembali Bergolak, Krisis Kemanusiaan Mengintai
Detik.com · 26 September 2026 pukul 09.08