Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Tantangan Baru Iran untuk AS, Trump "Mimpi" Caplok Selat Hormuz

Konflik Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Teheran menegaskan kendolikan penuh atas Selat Hormuz dan menolak membuka jalur tersebut tanpa pemenuhian syarat yang ditetapkan. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka atau ditutup berdasarkan perintah Iran, sementara Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menegaskan bahwa negosiasi hanya akan dilanjutkan setelah AS memenuhi persyaratan terkait pengelolaan jalur pelayaran. Lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia, belum kembali normal. Analisis perusahaan pelacak kapal Kpler menunjukkan hanya dua kapal yang terlihat melewati selat pada Jumat, jauh di bawah kondisi sebelum perang yang mencapai lebih dari 130 kapal per hari. Kapal-kapal yang berani melewati tanpa izin Iran berisiko diserang oleh rudal atau drone.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta warga AS bersiap menghadapi kenaikan harga bensin sebagai konsekuensi perang, sekaligus mengancam akan menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah mengalahkan Iran. Pencegahan Iran dari memperoleh senjata nuklir menjadi salah satu alasan utama Trump mendukung konflik ini. Dalam kampanyenya di New York, Trump berkata bahwa warga AS perlu membayar lebih mahal untuk bensin guna memastikan negara yang disebutnya 'sangat jahat' tidak memiliki senjata nuklir.

Tekanan ekonomi juga mulai terasa di Iran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyalahkan inflasi tinggi pada blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan sanksi terhadap ekspor minyak. Kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni untuk mengakhiri perang kini dinilai tidak berlaku lagi. Araqchi menegaskan bahwa Iran tidak memiliki gencatan senjata yang dapat diperpanjang, melainkan 'akhir perang' yang kini berubah menjadi fase baru dalam konflik. Serangan terbatas Iran terhadap kapal yang melanggar ketentuan kesepakatan, diikuti dengan serangan AS terhadap wilayah Iran bagian selatan, menandakan eskalasi yang berlanjut.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait