Jakarta · Sabtu, 29 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

BI Beberkan Alasan Kredit Tumbuh Lebih Kencang dari DPK

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan pertumbuhan kredit perbankan lebih kencang dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), sehingga likuiditas sejumlah kelompok bank mengalami penurunan. Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Alexander Lubis, menjelaskan bahwa meski pertumbuhan DPK secara industri masih kuat, laju peningkatannya belum mampu mengimbangi akselerasi pertumbuhan kredit. Hal ini menyebabkan perbedaan likuiditas antar kelompok bank, dengan sebagian bank mengalami penurunan likuiditas akibat penyaluran kredit yang lebih cepat, sementara kelompok lainnya masih memiliki likuiditas relatif besar.

Alexander menambahkan, kondisi ini juga terlihat dari kepemilikan surat-surat berharga (SSB) yang digunakan sebagai instrumen likuiditas. Beberapa kelompok bank tercatat mengalami penurunan SSB karena membutuhkan likuiditas untuk mendukung penyaluran kredit. Menurutnya, perbedaan ini mencerminkan perilaku berbeda antar bank dalam mengelola portofolio, sehingga menjadi pertimbangan BI untuk mengeluarkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) mulai 1 September 2026.

BI menegaskan bahwa pertumbuhan kredit tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan likuiditas, tetapi juga ada faktor permintaan yang belum optimal. Beberapa korporasi masih memiliki fasilitas kredit yang belum digunakan karena ketidakpastian ekonomi. Untuk menghadapi hal ini, BI akan mempertemukan perbankan dengan calon debitur melalui skema business matching, khususnya untuk UMKM. Target pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 ditetapkan sebesar 8-12 persen, dan realisasi sejauh ini masih on track.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait