Jakarta · Selasa, 29 September 2026Cari
WargaKonoha

IHSG Terancam Jebol 6.000, Harga Minyak dan Rupiah Jadi Biang Tekanan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terancam melintasi level 6.000 akibat tekanan dari harga minyak mentah yang tinggi dan pelemahan Rupiah. Pada perdagangan Senin (28/9/2026), IHSG ditutup melemah 1,51% atau 94,03 poin ke level 6.147,85, dengan 532 saham melemah dan hanya 180 saham yang menguat. Tekanan ini juga dipengaruhi oleh kondisi pasar global, di mana Wall Street ditutup melemah dan yield US Treasury 10 tahun naik ke 5,234% pada 28 September 2026.

Phintraco Sekuritas menyoroti bahwa pergerakan pasar saham domestik akan terus dipengaruhi oleh perkembangan pasar global, terutama setelah IHSG gagal bertahan di atas level 6.200. Secara teknis, indeks diproyeksikan menguji area support berikutnya di kisaran 6.000-6.100. Investor global juga akan mencermati data ekonomi AS, seperti indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dirilis pada Rabu (30/9/2026) dan data nonfarm payrolls September pada Jumat (2/10/2026), yang dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter AS.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah tetap berada di level tinggi meski sempat turun dari puncak harian, sementara harga emas terkoreksi lebih dari 3% dan berada di sekitar US$4.148 per troy ounce. Di sisi domestik, pelemahan Rupiah ditambah dengan menguatnya dolar AS dan yield obligasi AS yang tinggi, menambah tekanan psikologis terhadap pasar saham Indonesia. Untuk perdagangan Selasa (29/9/2026), Phintraco Sekuritas menyarankan investor memantau saham UNTR, MEDC, CBRE, ERAA, ELSA, dan AADI.

Peristiwa ini diliput 5 media — baca rangkuman gabungannya

Diberitakan juga oleh


Berita terkait