Jakarta · Selasa, 29 September 2026Cari
WargaKonoha

Top 3: Rupiah Melemah Lagi

Bank Indonesia (BI) mewaspadai tekanan pada rupiah akibat penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil aset AS, dan pergeseran arus modal dari negara berkembang ke negara maju. Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan fenomena higher for longer berpotensi menekan aliran modal ke pasar berkembang, termasuk Indonesia, sekaligun dengan menekan nilai tukar rupiah dan memengaruhi neraca pembayaran Indonesia. Tekanan ini diperparah oleh kenaikan harga minyak dunia hingga US$ 125,53 per barel pada 24 September 2026, yang berisiko meningkatkan inflasi dan menekan neraca eksternal Indonesia. Untuk mengatasi tekanan tersebut, BI memperluas kerja sama transaksi Local Currency Transaction dengan negara mitra serta meningkatkan likuiditas mata uang lokal seperti yuan dan yen. Di sisi lain, ketegangan geopolitik juga memicu kenaikan harga minyak, dengan minyak WTI naik 1,87% ke US$ 94,14 per barel dan Brent menguat 2,89% hingga US$ 107,34 per barel pada 28 September 2026, setelah Presiden AS Donald Trump menolak usulan damai Iran. Selain isu mata uang dan energi, BI juga mendukung alternatif pembiayaan infrastruktur melalui keterlibatan Danantara dan Pemprov DKI Jakarta untuk perpanjang rute LRT Jakarta, guna mengurangi beban fiskal daerah.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait