Wamen ESDM Ungkap Subsidi Energi Bisa Bengkak Rp300 T Jika EBT Lambat
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Wamen ESDM Yuliot Tanjung menyatakan subsidi dan kompensasi energi bisa menambah Rp300 triliun bila pengembangan energi baru terbarukan (EBT) tidak dikebut. Dampak kenaikan harga energi global akibat konflik geopolitik seperti Amerika- Iran dan Ukraina-Rusia dapat meningkatkan inflasi, biaya produksi, serta kebutuhan subsidi BBM, listrik, dan LPG. Kementerian ESDM menghitung tanpa antisipasi EBT, kompensasi dan subsidi dari Rp400 triliun bisa naik menjadi Rp700-an triliun, menambah beban APBN dan defisit pembiayaan pada 2026. Pemerintah mengimplementasikan biodiesel B50 pada 2026 dan B60 pada 2027 serta menargetkan cadangan energi nasional naik dari 21 hari menjadi minimal 30 hari untuk meningkatkan ketahanan energi.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 2 September 2026 pukul 12.30
Wamen ESDM Sebut Anggaran Subsidi Energi Terancam Bengkak Rp 300 T
Warta Ekonomi · 31 Agustus 2026 pukul 16.30
Rupiah Melemah ke Rp17.772, Subsidi Energi Jadi Ancaman Baru bagi Fiskal
Liputan6.com · 2 September 2026 pukul 13.30
Konflik Geopolitik Ancam APBN, Subsidi Energi Diprediksi Naik Rp 300 Triliun
Berita terkait
ESDM Kejar Ketahanan Cadangan Energi RI Naik Jadi Minimal 30 Hari
CNN Indonesia · 2 September 2026 pukul 14.10
Kuota LPG 3 Kg Diprediksi Jebol, Pemerintah Buka Suara
Liputan6.com · 31 Agustus 2026 pukul 13.30
RI Darurat Reformasi Subsidi Energi, Ekonom Beberkan Alasannya
CNBC Indonesia · 28 Agustus 2026 pukul 14.55
Program PLTS 100 GWp Butuh Investasi Rp1.140 Triliun, Bidik 5,5 Juta Lapangan Kerja
VOI · 28 Agustus 2026 pukul 11.11