Jakarta · Senin, 14 September 2026Cari
WargaKonoha

Harga Minyak Dunia Tembus US$108 per Barel, Tekanan Inflasi Energi dan Risiko Pasokan Global Meningkat

Harga minyak dunia mencapai US$108 per barel, mendorong tekanan pada harga BBM di Indonesia. Rata-rata Indonesia Crude Price (ICP) Januari-September 2026 diperkirakan berada di kisaran US$85-US$90 per barel, meskipun naik menjadi US$89,43 per barel pada Agustus 2026 dibandingkan US$81,68 per barel pada Juli 2026. Lonjakan ini sejalan dengan ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, Laut Merah, dan Selat Bab al-Mandab, termasuk serangan drone dan keterlibatan kelompok Houthi yang didukung Iran. Pemerintah menyatakan akan mempertahankan harga BBM bersubsidi tanpa kenaikan, berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianti untuk melindungi daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.

Pertamina memproyeksikan harga Pertamax nonsubsidi berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter jika harga minyak dunia tidak turun. Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, menekankan pentingnya penurunan harga minyak ke kisaran US$60-US$70 per barel untuk mereduksi tekanan inflasi energi. Pemerintah dan Pertamina memastikan stok BBM di terminal dan SPBU tetap aman, sekaligus mengimbau masyarakat menghindari panic buying yang dapat menyulitkan pemulihan stok.

Uni Eropa mengimpor 471,3 juta ton minyak mentah pada 2024 dengan produksi domestik hanya 15,5 juta ton, menghasilkan ketergantungan minyak sebesar 96,6%. Jerman menjadi negara pengimpor terbesar dengan 117,8 juta ton (20,1% konsumsi Eropa), diikuti Prancis (82,4 ton), Italia (73,3 ton), dan Spanyol (85,8 ton). Belanda mengimpor 138,3 juta ton tetapi juga mengekspor 101,1 juta ton, berfungsi sebagai jalur energi utama dengan Pelabuhan Rotterdam. Keempat negara tersebut menyumbang hampir 58% dari total konsumsi minyak Eropa.

Menurut tiap media