Jakarta · Sabtu, 29 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Iran dan AS Bergulat: Sanksi Baru, Blokade Selat Hormuz, dan Antrean Warga

Media melaporkan AS dan Iran dalam konflik yang membesar. AS mengumumkan sanksi baru menargetkan lima sektor ekonomi Iran — aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran — serta 60 entitas dan kapal, dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan isolasi bagi negara yang tidak mendukung Washington. Sanksi ini memicu antrean panjang di SPBU di Teheran, menyulitkan warga mengakses bahan bakar. Presiden Trump dan Wakil Presiden JD Vance menekankan penurunan harga minyak dan pencegahan senjata nuklir Iran.

Iran menanggapi dengan ancaman balasan terhadap negara yang ikut dalam perang ekonomi AS, termasuk blokade Selat Hormuz yang dikontrol penuh. Iran menyusun tuntutan pembukaan kembali Selat Hormuz yang mensyaratkan pengakhiran perang regional, pencabutan sanksi, dan kompensasi ekonomi. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kondisi terburuk dalam perang ekonomi sejak 2018, namun menegaskan proyek pembangunan tetap berjalan. Ia juga mendorong negara Muslim memperkuat kerja sama ekonomi melalui OKI, dengan perdagangan antaranggota hanya mencapai 19 persen.

Perbedaan melapangan muncul terkait klaim ekspor minyak Iran. Media Indonesia melaporkan Iran mengekspor 70-80 juta barel minyak dan menyepakati koridor pelayaran dengan Oman, sementara Detik.com dan Warta Ekonomi menekankan isolasi ekonomi yang belum pernah disaksikan. Media juga berbeda soal peran China dan Jepang: Media Indonesia menyebut China sebagai mitra strategis yang diancam balasan, sementara laporan lain menyebutkan Jepang meminta jaminan navigasi bebas. Pakistan dilaporkan berkembang dalam mediasi pasca kunjungan Marsekal Asim Munir ke Teheran.

Menurut tiap media