Jakarta · Selasa, 22 September 2026Cari
WargaKonoha

Rupiah Melemah, Tekanan Dolar AS dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Rupiah melemah pada perdagangan Senin (21/9/2026), dengan beberapa media melaporkan level penutupan berbeda. JawaPos dan JPNN melaporkan rupiah berada di kisaran Rp17.783-Rp17.847 per dolar AS, sementara ANTARA dan Liputan6 menyebutkan level Rp17.783. CNBC Indonesia melaporkan rupiah melemah 0,54% dan berakhir di Rp17.825, dengan rentang perdagangan Rp17.740-Rp17.840. Perbedaan ini mencerminkan variasi waktu penutupan perdagangan yang dilaporkan oleh masing-masing media.

Kenaikan suku bunga Federal Reserve pada 16 September 2026 menjadi faktor utama. The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%-4%, yang dilaporkan oleh hampir seluruh media. Proyeksi Fed menunjukkan suku bunga akan mencapai 4%-4,25% akhir 2026, menambah tekanan pada rupiah. Imbal hasil obligasi AS juga menjadi faktor, dengan obligasi 10 tahun mencapai 5% dan 2 tahun mencapai 4,756%, tertinggi sejak 2024 menurut ANTARA, JPNN, dan Liputan6.

Selain faktor AS, konflik geopolitik di Timur Tengah dan harga minyak di atas USD100/barel menjadi risiko domestik. CNBC Indonesia dan Warta Ekonomi menekankan tekanan dari harga minyak tinggi yang meningkatkan risiko inflasi global. Bank Indonesia diperkirakan akan menahan suku bunga pada rapat Dewan Gubernur pada 23 September 2026, dengan proyeksi rupiah berkisar Rp17.700-Rp17.850 per dolar AS. BI juga aktif melakukan intervensi melalui NDF, spot, DNDF, dan pembelian SBN untuk mendukung stabilitas rupiah.

Menurut tiap media