BI Perkuat Strategi Stabilisasi Rupiah di Tengah Tekanan Konflik Timur Tengah
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Bank Indonesia (BI) menegaskan strategi stabilitas rupiah masih menjadi prioritas amid geopolitik tension di Timur Tengah yang menyisihkan harga minyak di atas US$100 per barel. Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter, menyatakan harga minyak tinggi meningkatkan risiko inflasi global serta tekanan pada outlook fiskal Indonesia. Rupiah tekanan dari kebutuhan valas importir dan arus keluar dana dari portofolio aset domestik. BI tetap aktif di pasar melalui intervensi NDF offshore, spot, dan DNDF domestik serta pembelian SBN di pasar sekunder. Selain itu, koordinasi dengan sektor swasta untuk memperkuat arus masuk modal asing melalui insentif dan skema Local Currency Transaction (LCT). Quarter to date rupiah menguat 0,37% dengan cadangan devisa mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 21 September 2026 pukul 15.06
Rupiah Ditutup Melemah 0,54%, Dolar AS Kini Parkir di Rp17.825
CNBC Indonesia · 21 September 2026 pukul 14.50
Perhatian! BI Ungkap Deretan Penyebab Dolar Tekan Rupiah Hari Ini
Detik.com · 21 September 2026 pukul 16.53
Dolar AS Tembus Rp 17.800, BI Ungkap Biang Keroknya
ANTARA News · 21 September 2026 pukul 16.08
Rupiah melemah dipengaruhi ketegangan geopolitik di Asia Barat
Berita terkait
Bos BI Beberkan Alasan Rupiah Tertekan Lawan Dolar Minggu Lalu
CNBC Indonesia · 14 September 2026 pukul 12.26
Rupiah Tertekan Harga Minyak Dunia, Potensi Melemah ke Level Rp 17.650 Hari Ini
JawaPos · 14 September 2026 pukul 07.30
Harga Minyak Dunia Melonjak, IHSG Ditutup Melemah ke 6.541
Media Indonesia · 11 September 2026 pukul 17.00
Harga Minyak Dunia Melonjak, Rupiah Melemah ke Rp17.611 per Dolar AS
Media Indonesia · 11 September 2026 pukul 15.53