Jakarta · Kamis, 3 September 2026Cari
WargaKonoha

China Sudah Unggul Jauh Raja Dunia Baru, Amerika Makin Tertinggal

China kini menjadi pemimpin global dalam robotik dan manufaktur pintar, didukung alokasi dana pemerintah sebesar US$ 20 miliar (Rp 355 triliun). Lebih dari dua juta unit robot industri telah terpasang di pabrik-pabrik di seluruh negeri, serta lebih dari separuh robot industri dunia diproduksi di China. Kecepatan inovasi ini mendorong ambisi pemerintat untuk menguasai teknologi sebelum negara lain, termasuk kemampuan pengadaan komponen robot lengkap dalam waktu kurang dari satu jam di Shenzhen. Motivasi utama transformasi ini adalah proyeksi penurunan drastis tenaga kerja akibat penuaan penduduk, dengan diperkirakan 60 juta penduduk usia kerja hilang dalam 10 tahun ke depan, sekaligus 120 juta pekerja manufaktur yang berisiko kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi yang terlalu cepat.

Di sisi lain, Amerika Serikat masih mempertahankan keunggulan dalam pengembangan perangkat lunak dan model kecerdasan buatan, namun keunggulan ini semakin terancam. Perusahaan rintisan China seperti DeepSeek dan Moonshot berhasil meluncurkan model AI open source yang setara dengan kemampuan model Amerika, bahkan di tengah pembatasan ekspor chip canggih oleh Washington. Hal ini menandakan bahwa keunggulan AS di bidang AI tidak lagi sejauh dulu.

Para ahli dan pembuat kebijakan di China, seperti Chen Tianyu, menyaksikan perubahan ini sekaligus sebagai peluang dan ancaman. Di satu sisi, lulusan sekolah kejuruan kini sangat dibutuhkan dan sudah dijanjikan pekerjaan sebelum lulus. Namun, ketidakpastian akan masa depan pekerakan akibat percepatan otomatisasi menjadi sumber kekhawatiran, terutama bagi generasi muda yang belajar menghadapi dunia kerja yang terus berubah.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait