Jakarta · Kamis, 17 September 2026Cari
WargaKonoha

Krisis Besar di Depan Mata, Amerika Cuma Takut Sama China

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin pesat di AS, menciptakan perdebatan apakah perlu moratorium pengembangan AI lanjutan. Presiden AS Donald Trump menolak keras moratorium, khawatir AS akan kalah dari China. Ia berargumen bahwa menghentikan inovasi AI justru mengancam keunggulan strategis dan keamanan nasional AS. Menurutnya, perusahaan teknologi mampu mengatur diri sendiri tanpa intervensi pemerintah. Sementara itu, sejumlah politikus Demokrat dan para bos teknologi mendukung penghentian sementara pengembangan AI untuk memprioritaskan keamanan publik. Mereka khawatir dampatyang negatif AI dapat membahayakan masyarakat luas.

Ketua DPR AS Mike Johnson menegaskan bahwa moratorium tidak dilaksanakan karena akan melemahkan posisi AS dalam persaingan teknologi global melawan China. Ia menolak juga gagasan pembentukan badan regulasi khusus untuk AI. Johnson menyampaikan bahwa pemerintah AS akan mengundang para pemimpin teknologi ke Gedung Putih untuk membahas arah pengembangan AI. Namun, ia tetap mendukung tata kelola AI yang seimbang, termasuk auditor independen dan transparansi dalam pengembangan teknologi.

Di sisi lain, CEO Anthropic Dario Amodei mengusulkan kerangka kerja tiga tahap untuk memperlambat pengembangan model AI guna mengurangi risiko. Usulannya mendapat dukungan dari CEO OpenAI dan Elon Musk. Namun, Amodei menyatakan bahwa tantangan terbesar adalah persaingan sengit antara AS dan China. Mantan peneliti Anthropic Jacob Coxon mendesak agar AS tidak bertindak sendiri dan membutuhkan koordinasi internasional agar persaingan AI tidak berubah menjadi ancaman bagi global.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait