Love Scamming Marak, Komnas Perempuan, Psikolog, Polri Ingatkan Bahaya Relasi Toxic Online
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Kejahatan love scamming berbasis digital semakin marak di Indonesia. Komnas Perempuan mencatat jumlah pelapor korban kekerasan berbasis gender online, termasuk love scamming, sudah menyamai kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Perwakilan Komnas Perempuan Robi Kurniawan mengungkapkan bahwa tren ini terus meningkat setiap tahun dan patut diwaspadai.
Pola love scamming biasanya melibatkan pembangunan relasi personal oleh pelaku terhadap korban. Pelaku umumnya bukan orang asing, melainkan seseorang yang sudah dikenal dekat seperti pacar, mantan pacar, hingga mantan suami atau istri. Hal ini membuat korban lebih mudah terpengaruh karena sudah memiliki ikatan emosional sebelumnya.
Psikolog Dra. A. Kasandra Putranto menegaskan bahwa korban love scamming tidak memiliki profil khusus. Siapa saja bisa menjadi sasaran, baik dari kalangan tua maupun muda, yang sudah memiliki pasangan maupun lajang, bahkan mereka yang terpelajar dan mapan secara ekonomi. Kondisi haus akan kasih sayang dan perhatian dimanfaatkan pelaku untuk melakukan manipulasi hingga menguras harta korban.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
SINDOnews · 4 Agustus 2026 pukul 14.15
Kejahatan Love Scamming Kian Marak, Korban dari Orang Mapan hingga Terpelajar
Berita terkait
Komnas Perempuan Ungkap Tantangan Korban Kekerasan Seksual Dapat Hak Aborsi
Detik.com · 28 September 2026 pukul 17.08
Komnas Perempuan Dorong Korban Kekerasan Seksual Bisa Aborsi Aman tanpa Paksaan
JawaPos · 28 September 2026 pukul 16.00
Bechi Bebas Bersyarat, DPR: Jangan Remehkan Kasus Kekerasan Seksual
Liputan6.com · 25 September 2026 pukul 16.34
Komnas Perempuan Desak Kementerian Imipas Jelaskan Dasar Pembebasan Bersyarat Bechi
SINDOnews · 24 September 2026 pukul 13.45