Bank Dunia Warning RI: Defisit Transaksi Berjalan Makin Lebar di 2027
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Bank Dunia memperingatkan pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia hingga 2027 akibat program prioritas pemerintah, investasi negara, dan subsidi energi. Meski pertumbuhan ekonomi 2026 direvisi naik menjadi 5,2%, kebijakan tersebut memicu ketidakseimbangan fiskal dan eksternal. Defisit diproyeksikan mencapai 1,5% dari PDB pada 2026.
Kondisi riil kuartal II-2026 menunjukkan defisit nominal terbesar dalam sejarah sebesar US$ 12,5 miliar (3,3% PDB), melonjak tajam dari US$ 3,58 miliar pada kuartal I-2026. Penyebab utama adalah penyusutan surplus perdagangan barang sebesar 83,92% akibat lonjakan impor yang jauh melampaui kenaikan ekspor.
Gubernur Bank Indonesia menyatakan defisit ini menekan nilai tukar rupiah, yang saat ini bergerak di kisaran Rp17.800-Rp18.000 per dolar AS, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar Rp16.500. Tekanan diperparah oleh kenaikan impor migas dan rendahnya surplus non-migas.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Warta Ekonomi · 7 Oktober 2026 pukul 09.17
Rupiah Dibuka Menguat ke Level Rp170.866 per USD Hari Ini
Warta Ekonomi · 7 Oktober 2026 pukul 09.17
Rupiah Dibuka Menguat ke Level Rp17.866 per USD Hari Ini
CNN Indonesia · 6 Oktober 2026 pukul 16.59
Bank Dunia: 86 Persen Perusahaan AS di RI Berencana Tambah Investasi
Warta Ekonomi · 6 Oktober 2026 pukul 15.26
Rupiah Ditutup Rebound ke Rp17.899 per USD, Ditopang Sentimen Bank Dunia
Berita terkait
Defisit Transaksi Berjalan Tembus US$12,5 M, Ancaman Besar Buat Rupiah
CNBC Indonesia · 21 Agustus 2026 pukul 16.50
Bank Dunia Naikkan Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 Jadi 5,2 Persen
Warta Ekonomi · 6 Oktober 2026 pukul 13.54
Bank Dunia Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI, Kini Tembus 5,2%
CNBC Indonesia · 6 Oktober 2026 pukul 09.30
Prabowo Ungkap Fakta Besar dari Bank Dunia dan Pakar Soal Ekonomi RI
CNBC Indonesia · 17 September 2026 pukul 08.40