Kemitraan Indonesia–Norwegia Tunjukkan Model Baru Diplomasi Iklim Berbasis Kinerja
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Kemitraan Indonesia dan Norwegia dalam menjaga hutan tropis dinilai menghadirkan model baru diplomasi iklim yang lebih setara, transparan, dan berbasis hasil. Melalui mekanisme Results-Based Payment (RBP), pembayaran diberikan setelah Indonesia berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan berdasarkan capaian yang terukur dan diverifikasi secara independen.
Pandangan ini mengemuka dalam peluncuran buku 'Diplomasi Bumi: Cerita di Balik Indonesia's FOLU Net Sink 2030' yang diselenggarakan Kementerian Kehutanan di Jakarta. Kemitraan ini bermula dari penandatanganan Letter of Intent (LoI) pada Mei 2010 di Oslo, yang membuka peluang kontribusi berbasis hasil hingga US$1 miliar sesuai capaian pengurangan emisi Indonesia dari sektor kehutanan.
Implementasi LoI menghadapi berbagai tantangan kelembagaan sehingga kedua negara menyepakati pengakhiran LoI pada September 2021. Namun, hal ini menjadi momentum untuk membangun kerangka kerja sama yang lebih matang. Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Mahfudz menegaskan bahwa keberhasilan menekan deforestasi dan memperbaiki tata kelola hutan menunjukkan perlindungan hutan memberikan manfaat ekologis sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat internasional terhadap komitmen Indonesia dalam memenuhi target Persetujuan Paris.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
SINDOnews · 30 Juli 2026 pukul 20.27
Kerja Sama RI-Norwegia Tunjukkan Model Baru Diplomasi Iklim Berbasis Kinerja
Berita terkait
Kemenko Pangan Dorong Penyaluran Rp253,1 Miliar Dana REDD+ GCF Lingkungan Hidup ke 10 Provinsi
JawaPos · 13 Agustus 2026 pukul 16.57
Zulhas Percepat Penyaluran Rp 253,1 M Dana REDD+ GCF ke 10 Provinsi
Detik.com · 12 Agustus 2026 pukul 20.50
Emisi Deforestasi Turun, RI Dapat Dana Rp 1,8 T dari GCF
Detik.com · 12 Agustus 2026 pukul 16.06
Jumhur Paparkan Strategi Pembangunan Hijau Indonesia di Hadapan Investor Global
SINDOnews · 5 Agustus 2026 pukul 11.20