Jakarta · Selasa, 8 September 2026Cari
WargaKonoha

Keputusan Presiden Ini Bikin Warga Sengsara, Bensin Tembus Rp72.700

Warga Amerika Serikat menghadapi lonjakan harga bensin menjelang peringatan Labor Day akibat ketegangan AS-Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global. Pada Kamis minggu lalu, harga rata-rata nasional bensin AS mencapai US$4,13 per galon atau sekitar Rp72.700, naik hampir US$1 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini melampaui rekor Labor Day sebelumnya sebesar US$3,83 per galon. Lonjakan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump menginstruksikan serangan ke Pulau Kharg dan tiga kapal tanker minyak Iran sebagai respons atas tembakan rudal balistik yang diluncurkan oleh Iran ke arah dua kapal perang AS.

Analis GasBuddy Patrick De Haan menyatakan bahwa harga tersebut menjadi tertinggi dalam sejarah untuk periode Labor Day. Harga minyak mentah juga kembali menembus US$90 per barel, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar di tingkat konsumen. Stok bensin AS turun menjadi 205,7 juta barel, di bawah rata-rata lima tahunan Agustus sebesar 217,6 juta barel. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan ekspor produk olahan minyak AS meningkat lebih dari 10% dibandingkan tahun sebelumnya.

Krisis ini menjadi tantangan bagi janji Trump untuk menurunkan biaya energi. Pada 14 Agustus, Trump menyatakan bahwa warga AS seharusnya bersedia membayar sedikit lebih mahal untuk bensin demi mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir. Dampaknya terasa pada perilaku konsumen, seperti Randi O'Brien dari Colorado yang hanya mampu membeli bensin senilai US$15 untuk truknya. Analis energi Tom Kloza memperingatkan bahwa harga solar berpotensi melewati rekor US$5,82 per galon pada 2022, sementara biaya perjalanan udara saat Labor Day diperkirakan 20% lebih mahal dibandingkan tahun sebelumnya.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait