Mengapa Perusahaan-perusahaan Minyak Dunia Untung Besar karena Perang Iran?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Penutupan Selat Hormuz akibat konflik Iran melumpuhkan arus energi global, mendorong harga minyak melonjak selama berbulan-bulan. Dampaknya terasa hingga ke pasar energi Amerika Serikat dan Eropa, dengan kenaikan harga kebutuhan rumah tangga yang signifikan. Perusahaan minyak raksasa (Big Oil) justru meraup keuntungan besar dari kondisi ini.
Empat perusahaan minyak terkemuka — ExxonMobil, Chevron, Shell, dan BP — mencatatkan kinerja finansial yang melesat. ExxonMobil mencatat laba kuartal kedua sebesar USD14,5 miliar (disesuaikan USD14,7 miliar), rekor tertinggi dalam empat tahun terakhir. Chevron meraih laba kuartal kedua USD12 miliar, tertinggi dalam enam tahun, melampaui ekspektasi analis. Shell berhasil menggandakan labanya hingga lebih dari dua kali lipat, mencapai hampir USD10 miliar.
Keuntungan ini didorong oleh kenaikan harga minyak global dan margin penyulingan yang lebih kuat. Meskipun produksi di Qatar terganggu, sebagian besar produksi dan pasokan perusahaan-perusahaan ini berada di luar Selat Hormuz, sehingga tidak terdampak langsung. Konflik yang semakin luas hingga ke Laut Merah juga memperkuat tekanan pasar energi global.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 7 Agustus 2026 pukul 09.30
Minyak Mulai Memanas, Brent Tembus US$83
CNN Indonesia · 7 Agustus 2026 pukul 09.05
Harga Minyak Dunia Naik ke US$83,48 per Barel
Detik.com · 7 Agustus 2026 pukul 08.15
Rencana Iran Perketat Selat Hormuz Bikin Harga Minyak Mendidih
Liputan6.com · 7 Agustus 2026 pukul 07.34
Harga Minyak Hari Ini Melambung Tersengat Rencana Iran Soal Selat Hormuz
Berita terkait
Harga Minyak Dunia Mandek di US$87,8 saat Harapan Damai AS-Iran Redup
CNN Indonesia · 11 Agustus 2026 pukul 08.50
Harga Minyak Hari Ini Melambung, Investor Menanti Kesepakatan Pembukaan Selat Hormuz
Liputan6.com · 8 Agustus 2026 pukul 08.57
Negosiasi Selat Hormuz Ulet, Harga Minyak Dunia Kembali Mendidih Lebih 1%
SINDOnews · 8 Agustus 2026 pukul 07.47
Gejolak Baru di Timur Tengah, Harga Minyak Meroket Nyaris 4%
SINDOnews · 7 Agustus 2026 pukul 15.57