Menlu Aragchi Yakin Sanksi Ekonomi Terbaru AS ke Iran Pasti Gagal
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yakin sanksi ekonomi terbaru Amerika Serikat yang diusulkan oleh Presiden Donald Trump akan gagal. Araghchi mendukung hal ini dengan menyebut bahwa empat belas tahun lalu, sanksi paling melumpuhkan dalam sejarah gagal, delapan tahun lalu tekanan maksimum juga gagal, bahkan kampanye Trump lima bulan lalu yang menyerukan Iran menyerah tanpa syarat kalah. Ia unggah gambar mantan Presiden AS Barack Obama yang memperlihatkan pernyataan tahun 2012 dari Wakil Presiden AS saat itu, Joe Biden, yang menggambarkan tindakan terhadap Iran sebagai "sanksi paling melumpuhkan dalam sejarah sanksi". Trump sebelumnya mengumumkan niatnya meluncurkan kampanye tekanan maksimum yang disebutnya sebagai "Perang Ekonomi dan Isolasi" untuk memutus seluruh saluran keuangan yang mendukung pemerintah Iran. Dalam pengumuman tersebut, Trump memperingatkan negara-negara atau entitas yang memberi bantuan ekonomi kepada Iran akan menghadapi konsekuensi berat, dia juga mengajak sekutu AS untuk bergabung melumpuhkan keuangan Iran.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
VOI · 20 Agustus 2026 pukul 16.00
China Tolak ‘Economic D-Day’ Trump terhadap Iran, Sebut Sanksi Tak Menyelesaikan Masalah
Media Indonesia · 22 Agustus 2026 pukul 15.04
Menlu Iran Abbas Araghchi Sebut Sanksi Ekonomi AS Pasti Gagal
SINDOnews · 22 Agustus 2026 pukul 13.32
Iran Sebut Perang Ekonomi AS Resep Kembali ke Kolonialisme
Media Indonesia · 21 Agustus 2026 pukul 14.56
Dampak Ancaman Perang Ekonomi Donald Trump Terhadap Mitra Dagang Iran
Berita terkait
Trump: Negosiasi Iran Terhambat karena Banyak Pemimpinnya Tewas
VOI · 21 Agustus 2026 pukul 11.44
Klaim Rencana Isolasi Ekonomi Iran Terbesar dalam Sejarah, AS: Bersama Kami atau Melawan Kami
VOI · 21 Agustus 2026 pukul 07.00
Tampil Lagi di Publik, Melania Trump Sindir Isu Spekulasi Keterasingannya
Media Indonesia · 21 Agustus 2026 pukul 06.54
Trump Ingin Bertemu Kim Jong Un Tahun Ini, Sebut Korut Punya 57 Senjata Nuklir
VOI · 20 Agustus 2026 pukul 18.00