Menlu Iran Abbas Araghchi Sebut Sanksi Ekonomi AS Pasti Gagal
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa sanksi ekonomi baru yang direncanakan AS akan gagal, merujuk pada sejarah kegagalan sanksi serupa dalam 14 tahun terakhir. Pernyataannya merespons pengumuman Presiden AS Donald Trump tentang kampanye tekanan ekonomi "Perang Ekonomi dan Isolasi" yang ditujukan untuk memutuskan saluran keuangan Iran. Araghchi menekankan bahwa retorika sanksi yang dianggap "melumpuhkan" bukanlah hal baru dan selalu berakhir dengan kegagalan, termasuk seruan Trump lima bulan lalu yang menuntut Iran menyerah tanpa syarat.
Trump memperingatkan konsekuensi berat bagi negara yang membantu Iran secara ekonomi dan mengajak sekutu AS untuk bergabung dalam upaya melumpuhkan stabilitas keuangan Teheran. Di sisi lain, Jubir Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan bahwa sanksi baru melanggar Piagam PBB dan merupakan bentuk penegasan kedaulatan ekstra-teritorial yang ilegal. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan penguatan perang dengan AS dari posisi kuat, sementara Presiden Turki Erdogan mendorong diplomasi dengan Iran. Survei terbaru menunjukkan 68% warga AS menolak konflik dengan Iran.
Tekanan ini terjadi di tengah kondisi ekonomi Iran yang kesulitan, dengan inflasi mencapai 350 persen. Trump juga mengeklaim bahwa Iran belum siap untuk kesepakatan, sementara komunikasi antara Washington dan Iran tetap terbuka melalui peran berbagai pihak termasuk Putusan Khusus AS Jared Kushner.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JPNN.com · 22 Agustus 2026 pukul 15.48
Menlu Aragchi Yakin Sanksi Ekonomi Terbaru AS ke Iran Pasti Gagal
VOI · 20 Agustus 2026 pukul 16.00
China Tolak ‘Economic D-Day’ Trump terhadap Iran, Sebut Sanksi Tak Menyelesaikan Masalah
Berita terkait
Trump Sanksi Ekonomi Iran, Menlu Araghchi: Pengalihan Krisis AS, hanya akan Berujung Kekalahan Lanjutan
VOI · 20 Agustus 2026 pukul 14.13
Respons Iran Usai Trump Nyatakan Selat Hormuz Segera Jadi Wilayah AS
Warta Ekonomi · 16 Agustus 2026 pukul 17.30
Mohammed bin Salman Telepon Trump setelah AS Bersiap Mengebom Infrastruktur Energi Iran Secara Besar-besaran
SINDOnews · 2 Agustus 2026 pukul 09.44
Donald Trump Dipertimbangkan Jadi Nama Kapal Induk Baru AS
SINDOnews · 22 Agustus 2026 pukul 16.35