Jakarta · Kamis, 20 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Nasib Apes Kuwait Negara Kaya Minyak: Dulu Diinvasi Irak, Kini Jadi Bulan-bulanan Iran

Kuwait, negara petrostate kaya minyak di Teluk Persia, kini menghadapi krisis keamanan yang mengingatkan invasi Irak pada 1990. Sejak April 2026, serangan drone dan rudal Iran telah menyasar infrastruktur strategis termasuk kantor pusat Kuwait Petroleum Corp (KPC), yang rusak akibat api. Pemerintah Kuwait segera menyiapkan lokasi alternatif, bahkan menandatangani kesepakatan pipa minyak senilai USD16 miliar dengan perusahaan Amerika Utara untuk memastikan pasokan energi tetap berjalan. Serangan ini memicu kembali trauma sejarah, terutama bagi warga yang mas masih mengingat invasi Irak yang melukai ekonomi dan tak terlalu pulih hingga kini.

Sejak konflik erupsi pada 28 Februah 2026 antara AS-Israel dan Iran, Kuwait menjadi salah satu negara Arab paling banyak diserang, melebihi UAE, Arab Saudi, dan Qatar. Warga negara ini merespons dengan cepat: mendonorkan darah, menyiapkan ruang aman bawah tanah, membeli generator, dan mengubah sistem belajar ke daring. Pemerintah berupaya menjaga produksi minyak tetap berjalan demi pasokan listrik dan air desalinasi, sekaligus mengekspor melalui Selat Hormuz meski kondisinya genting.

Sejarawan Kuwait University Bader Al-Saif menekankan bahwa negara ini selalu berada di garis depan ancaman eksternal akibat ukuran kecilnya dan lokasinya di antara negara-negara besar seperti Irak dan Iran. Invasi Irak pada 1990 yang berlangsung cepat dan masih meninggalkan luka—termasuk 308 orang yang belum pulang dan sengketa perbatasan laut yang belum terselesaikan—menjadi bagian dari identitas nasional Kuwait. Setelah dibebaskan, negara ini menjadi tuan rumah militer AS, yang kembali menjadikannya sasaran dalam konflik terbaru.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait