Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Ribuan Migran Terobos Wilayah Ceuta dari Maroko, Pemda Minta Status Darurat

Ribuan migran memasuki wilayah Ceuta, Afrika Utara, dari Maroko pada akhir Juli 2026. Gelombang kedatangan ini memaksa Guardia Civil kewalahan mengamankan perbatasan. Para migran menyeberang melalui jalur laut di kawasan pemecah gelombang Tarajal dengan berenang menggunakan ban dalam dan alat apung lainnya. Sebagian lainnya menerobos gerbang pagar perbatasan lalu berlari menuju Ceuta. Televisi pemerintah Spanyol TVE melaporkan sekitar 2.000 hingga 3.000 migran berhasil masuk, meskipun angka ini belum dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.

Ceuta dan Melilla adalah dua wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara sekaligus satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Afrika, sehingga kerap menjadi jalur masuk para migran yang ingin mencapai Eropa. Peristiwa ini mengingatkan pada krisis migrasi Mei 2021, ketika sekitar 10.000 orang dari Maroko dan negara-negara Afrika sub-Sahara memasuki Ceuta hanya dalam beberapa hari.

Pemerintah daerah Ceuta mendesak pemerintah pusat di Madrid untuk menetapkan status darurat. Pemimpin Ceuta Juan Jesus Vivas juga meminta pengerahan militer dan penutupan sementara perbatasan dengan Maroko. Partai Rakyat (PP) sebagai oposisi utama mengkritik penanganan situasi ini dan menyebutnya sebagai krisis keamanan nasional. Kebijakan pemerintah Perdana Menteri Pedro Sánchez yang relatif terbuka terhadap migran, termasuk program legalisasi bagi sekitar 500.000 migran tanpa dokumen, menuai kritik dari partai-partai sayap kanan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait