Rupiah Terancam Tekanan Global dan Kerentanan Domestik, Peneliti LPEM FEB UI Ungkap Bahayanya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Peneliti LPEM FEB UI Teuku Riefky memperingatkan bahwa nilai tukar rupiah menghadapi tekanan dari kondisi ekonomi global yang melambat. IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi sekitar 3,0% pada 2026 akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, proteksionisme, fragmentasi ekonomi, dan volatilitas harga energi. Faktor-faktor ini berpotensi memengaruhi neraca perdagangan, arus modal, dan stabilitas nilai tukar di negara berkembang termasuk Indonesia.
Konflik geopolitik di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, serta gangguan jalur pelayaran di Laut Merah berpotensi menghambat pasokan energi dan meningkatkan biaya logistik internasional. Kondisi tersebut dapat mendorong inflasi impor, menaikkan biaya produksi, serta memberi tekanan lebih lanjut terhadap nilai tukar rupiah.
Dari sisi domestik, fundamental makroekonomi Indonesia dinilai masih relatif terjaga. Namun, tantangan utama terletak pada belum terciptanya lapangan kerja formal yang berkualitas dan rendahnya produktivitas. Penyusutan kelas menengah, pengangguran pada usia produktif yang meningkat, serta pergeseran tenaga kerja ke sektor informal berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memperbesar kerentanan ekonomi rumah tangga.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 31 Juli 2026 pukul 10.08
BI Ingatkan Risiko Global Belum Reda, Siaga Hadapi Era Suku Bunga Tinggi
Detik.com · 31 Juli 2026 pukul 10.08
Risiko Global Belum Reda, BI Siaga Hadapi Era Suku Bunga Tinggi
Berita terkait
Cerita Purbaya Ngaku ke IMF Jadi Menteri Paling Tak Beruntung Sedunia
CNBC Indonesia · 4 Agustus 2026 pukul 10.40
FERBI 2026 edukasi masyarakat tentang rupiah sebagai simbol kedaulatan
ANTARA News · 16 Agustus 2026 pukul 20.27
Geopolitik Global Memanas, Simak Prediksi Rupiah Pekan Depan
SINDOnews · 16 Agustus 2026 pukul 19.17
Rupiah Diprediksi Berpotensi Melemah pada Senin
Media Indonesia · 16 Agustus 2026 pukul 16.40