Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Tarik Ulur Selat Hormuz

Akses Selat Hormuz masih dalam proses tarik ulur antara Iran dan Amerika Serikasat (AS). Iran tetap kukuh tidak membuka jalur tersebut sebelum syarat-syaratnya terpenuhi. Sejak serangan AS dan Israel pada akhir Februari, Iran menerapkan blokade efektif dan berencana memungut biaya lintas bagi kapal-kapal yang melintas. Serangan di jalur perairan ini menyebabkan gagalnya gencatan senyawa bulan April. Pihak mediator mendesak kedua belah pihak kembali mematuhi nota kesepahaman Juni yang menetapkan langkah menuju perundingan damai.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan negosiasi dengan Oman mengenai rute maritim baru di Selat Hormuz berjalan baik dan mencapai tahap akhir. Namun, ia menekankan hal ini tidak berarti jalur strategis tersebut akan dibuka kembali. Rute baru ini akan menggantikan rute yang ada, dan para ahli sedang menyusun peta-petanya. Pembukaan kembali selat bergantung pada pemenuhan syarat lain yang telah disampaikan melalui perantara.

Kepala Keamanan Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, menyampaikan daftar tuntutan untuk membuka kembali Selat Hormuz, termasuk penghentian perang di semua front, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran, penghapusan sanksi, pencairan aset yang dibekukan, dan kompensasi atas kerusakan akibat perang. Garda Revolusi Iran menyatakan tidak akan membuka kembali selat hingga AS memenuhi syarat yang ditetapkan Teheran. Ayatollah Sadegh Amoli Larijani menegaskan kedaulatan atas Hormuz milik Republik Islam dan bahwa Iran tidak akan menyerah dalam keadaan apa pun.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait