Jakarta · Sabtu, 22 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Trump Ancam Negara yang Bantu Iran, Seberapa Ampuh Sanksi AS?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menerapkan sanksi ekonomi besar-besaran terhadap negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran. Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump menyebut langkah ini sebagai operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan AS terhadap sebuah negara. Menanggulangi ancaman ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai pernyataan Trump hanyalah upaya mengalihkan perhatian dari krisis internal AS seperti utang yang membengkak dan lonjakan biaya bunga.

Sebagai anggota OPEC, minyak mentah menjadi sumber pendapatan terpenting Iran. Sebelum konflik memanas, Iran mampu mengekspor 1,3 hingga 1,5 juta barel per hari dengan pendapatan mencapai US$3,45 miliar per bulan. Namun, eskalasi militer dan penutupan Selat Hormuz pada Maret lalu oleh AS berdampak signifikan. Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, melaporkan bahwa nilai ekspor non-minyak Iran pada periode 21 Maret hingga 16 Agustus mencapai US$15 miliar, sementara impor mencapai US$17 miliar. Total perdagangan Iran mengalami penurunan sebesar 24% dibandingkan tahun sebelumnya.

Meskipun Uni Emirat Arab (UEA) telah mengumumkan embargo terhadap Iran, sejumlah negara seperti Tiongkok, Turki, dan Pakistan tetap mempertahankan hubungan dagang. Tiongkok khususnya masih menjadi mitra utama ekspor minyak Iran, dengan volume mencapai 1,7 juta barel per hari melalui jalur informal. Pakar hukum internasional menjelaskan bahwa secara hukum, AS tidak memiliki kewenangan untuk memberlakukan embargo total tanpa otorisasi Dewan Keamanan PBB. Sanksi sepihak hanya dapat membatasi penggunaan lembaga keuangan dan sistem dolar AS. Prediksi, upaya Trump untuk mengisolasi Iran secara total akan menghadapi hambatan di tingkat multilateral karena hak veto yang dimiliki oleh Rusia dan Tiongkok sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait