BI: Pelemahan rupiah dipengaruhi kekhawatiran tekanan inflasi global
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Bank Indonesia (BI) menjelaskan pelemahan rupiah ke level Rp18.000 per USD dipengaruhi oleh kekhawatiran tekanan inflasi global dan risiko fiskal. Kenaikan harga minyak di atas $108 per barel serta belum kesepakatan pembukaan Selat Hormuz memperparah ketidakpastian. Ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS semakin tinggi, terbukti dengan yield UST 10 tahun mencapai 5,23 persen, tertinggi sejak 2007. Selain itu, tekanan nilai tukar didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir Q3 serta arus keluar dana dari emerging markets. BI menjamin stabilitas rupiah dengan memantau pasar secara aktif, mengelola suku bunga, serta meningkatkan insentif swap dan DNDF. Intervensi dilakukan melalui NDF offshore, spot, dan DNDF domestik, plus pembelian SBN di pasar sekunder. Pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang regional, dengan penurunan quarter-to-date sebesar 0,67 persen. Cadangan devisa mencapai $146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Warta Ekonomi · 28 September 2026 pukul 16.54
Bos BI Buka-bukaan Penyebab Rupiah Melemah
CNBC Indonesia · 28 September 2026 pukul 15.04
Rupiah Melemah 0,48%, Dolar AS Makin Dekati Level Rp18.000
CNBC Indonesia · 28 September 2026 pukul 12.02
Bos BI Beri Peringatan, Mata Uang Dunia Tengah Hadapi "Strong Dollar"
CNBC Indonesia · 29 September 2026 pukul 11.35
BI Tak Tinggal Diam Rupiah Anjlok! Masuk ke Pasar, Langsung Intervensi
Berita terkait
Rupiah Ditutup Melemah 0,54%, Dolar AS Kini Parkir di Rp17.825
CNBC Indonesia · 21 September 2026 pukul 15.06
Rupiah Melemah ke 17.783 per Dolar AS, Begini Prediksi Hari Ini
Liputan6.com · 21 September 2026 pukul 11.58
Rupiah Bergerak Melemah di Pembukaan Senin, Awas Bisa Berlanjut
JPNN.com · 21 September 2026 pukul 11.24
Pasar Berekspektasi Terhadap The Fed, Rupiah Jadi Kurang Perhatian
JPNN.com · 14 September 2026 pukul 11.42