Bos BI Beri Peringatan, Mata Uang Dunia Tengah Hadapi "Strong Dollar"
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan dolar Amerika Serikat menguat terhadap mata uang dunia perkarena kenaikan suku bunga acuan Fed ke level 3,75-4,00% dan diprediksi masih ada satu kenaikan lagi di KQ4 2026. Inflasi global mencapai 4,6% didorong oleh harga komoditas energi naik akibat konflik Timur Tengah, dengan minyak mentah mencapai US$125,53/bulan pada 24 September 2026. Rupiah terdepresiasi 0,22% menjadi Rp17.920/US$ pada pembukaan perdagangan Senin (28/9/2026), setelah sebelumnya naik 0,03% pada Jumat (25/9/2026). Indeks dolar AS (DXY) turun 0,31% ke 100,971 pada penutupan Jumat. BI akan menjaga kebijakan moneter untuk stabilitas eksternal meski tekanan modal asing terus hadir.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Warta Ekonomi · 28 September 2026 pukul 12.38
Harga Minyak Melonjak, BI Antisipasi Dampak ke Inflasi dan Nilai Tukar
CNN Indonesia · 28 September 2026 pukul 15.50
Wanti-wanti Dolar AS Menguat, Bos BI Beber Strategi Jaga Rupiah
kumparan · 28 September 2026 pukul 15.19
BI-Rate Ditahan di 5,75% Dinilai Tepat, Jaga Penyaluran Kredit hingga Rupiah
Warta Ekonomi · 28 September 2026 pukul 09.18
Rupiah Dibuka Melemah Rp17.903 per USD, Pasar Soroti Kenaikan Harga Minyak Dunia
Berita terkait
Rupiah Melemah 0,48%, Dolar AS Makin Dekati Level Rp18.000
CNBC Indonesia · 28 September 2026 pukul 15.04
Rupiah Ditutup Melemah 0,54%, Dolar AS Kini Parkir di Rp17.825
CNBC Indonesia · 21 September 2026 pukul 15.06
Rupiah Sentuh Level Tertinggi 15 Minggu, Dolar AS Turun ke Rp17.650
CNBC Indonesia · 3 September 2026 pukul 15.05
Rupiah Sempat Tertekan Mendekati 18.000, Sentimen Eksternal Biang Keladinya
Liputan6.com · 25 September 2026 pukul 16.01