Jakarta · Sabtu, 29 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Bos The Fed Bikin Pasar Kaget, Suku Bunga AS Berpotensi Naik

Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengejutkan pasar dengan menyatakan bahwa The Fed masih memandang inflasi sebagai risiko serius dan mungkin perlu 'berusaha lebih keras' untuk mengendalikannya. Pernyataan ini memicu kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS, terutama tenor jangka pendek, sekaligus menekan pasar saham. Berdasarkan data CME Group, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September 2026 melonjak dari 35% menjadi 58% dalam sehari. Sinyal ini juga meredakan kekhawatiran bahwa tekanan dari Presiden Donald Trump akan mencegah kenaikan suku bunga. Namun, sebagian investor khawatir The Fed berada dalam posisi sulit karena pasar kini memberikan tekanan untuk menaikkan suku bunga meski kondisi ekonomi belum tentu membutuhkannya.

Reaksi pasar saham terbatas, dengan Dow Jones turun kurang dari 0,1%, S&P 500 melemah 0,2%, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,5%. Gejolak lebih terasa di pasar obligasi, di mana yield Treasury 30 tahun pernah mencapai 5,3%, level tertinggi sejak 2007. Untuk meredam tekanan, Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana buyback obligasi jangka panjang, yang berhasil menurunkan yield 30 tahun ke 5,207%. Namun, yield 10 tahun justru naik ke 4,721%.

Tekanan juga terlihat pada saham sensitif ekonomi, seperti Russell 2000 yang turun 1,4% dan sektor industri S&P 500 yang melemah 1%. Para investor seperti Tony Parish dan Kristian Kerr menilai arah kebijatan moneter The Fed masih belum pasti. Sementara itu, pasar saham relatif stabil karena fokus pada laporan keuangan kuat dan kinerja Nvidia yang melemahkan kekhawatiran permintaan chip AI. Pertemuan The Fed pada 16 September 2026 menjadi sorotan utama untuk keputusan suku bunga.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait