BPD vs BPR dalam Kredit ASN: Mengapa Posisi Keduanya Tak Seimbang?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Terdapat ketimpangan struktural antara Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dalam penyaluran kredit ASN dan pensiunan. BPD memiliki posisi tawar lebih kuat karena mengelola payroll, sehingga dapat melakukan pemotongan gaji otomatis untuk cicilan kredit. Sebaliknya, BPR tidak memiliki akses debit langsung, sehingga risiko gagal tagih lebih tinggi meskipun profil nasabah dianggap aman. Hal ini terlihat dari tingginya NPL BPR dibandingkan BPD.
Kesenjangan ini diperparah oleh kurangnya pertukaran data kredit real-time, yang memicu praktik gadai SK berulang dan beban utang berlebih pada nasabah. Untuk mengatasinya, diperlukan standarisasi perjanjian kerja sama oleh OJK, pembukaan fasilitas debit otomatis bagi kreditor non-BPD dengan biaya administrasi, serta pembangunan basis data registrasi kredit daerah yang terintegrasi dengan SLIK guna mencegah double financing.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 11 September 2026 pukul 20.15
Antisipasi Lonjakan Transaksi Akhir Tahun, Bank Butuh Bandwidth Fleksibel
SINDOnews · 10 September 2026 pukul 20.09
OJK Beberkan Kinerja dan Risiko Sektor Perbankan di Kuartal III Tahun 2026
Media Indonesia · 10 September 2026 pukul 19.58
Optimisme Perbankan Terjaga di Triwulan III meski Global tidak Menentu
ANTARA News · 10 September 2026 pukul 18.50
OJK: Perbankan optimis pada triwulan III 2026 di tengah ketidakpastian
Berita terkait
Daftar 12 Bank Tutup dalam 8 Bulan
Detik.com · 1 September 2026 pukul 05.55
Bos BPD Ungkap Peluang Sinergi dengan BPR dan BPRS
CNBC Indonesia · 5 Agustus 2026 pukul 17.12
Payroll ASN di BPD jadi sumber pembiayaan sektor riil daerah
ANTARA News · 8 September 2026 pukul 15.38
OJK minta bank blokir 38.375 rekening terindikasi judi online
ANTARA News · 7 September 2026 pukul 22.40