Jakarta · Senin, 24 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Mencekik Iran, AS Tercekik

Tekanan ekonomi AS dan Emirat Arab (EA) semakin mematikan ekonomi Iran. Pada 19 Agustus, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan 'Economic D-Day' untuk mengisolasi Iran, sehari bersamaan EA memberlakukan embargo perdagangan. Iran menolak klaim EA soal dua rudal yang ditembakkan, sementara insiden itu dianggap mencurigakan karena konflik Iran-AS sedang mereda. EA menjadi akses utama Iran ke pasar global, dengan sekitar sepertiga bisnis Iran dilakukan melalui monarki tersebut. Langkah EA diharapkan diikuti negara-negara GCC, meski dukungan penuh diragukan. Pada 22 Agustus, Kepala Dewan Keamantan Iran Mohsen Rezaee mengeluarkan ultimatum bahwa negara yang mendukung AS akan menjadi sasaran retaliasi. Isolasi ekonomi diperkirakan tidak akan menghasilkan perubahan rezim karena dukungan Tiongkok dan Rusia pada Iran. Kebijakan ini juga memicu krisis energi global melalui pemblokade Selat Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz, yang mengangkut 20% kebutuhan energi dunia. Harga minyak naik, inflasi AS meningkat, dan utang AS melebihi US$40 triliun. Iran menuntut penghentian perang permanen, pencabutan sanksi, dan pembebasan dana sebesar US$100 miliar sebagai syarat membuka Selat Hormuz. Konflik ini juga memicu ketegangan di Gaza, Tepi Barat, dan Libanon, dengan Israel dihujat PBB dan sejumlah negara Arab. Kehilangan kredibilitas Trump di kawasan terlihat dari pembentukan Pakta Pertahanan oleh Turki, Arab Saudi, dan Pakistan, yang diperkirakan akan diikuti Mesir.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait