Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Surplus Dagang RI Tembus Rp 64,4 Triliun Hingga Juni 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia pada Januari-Juni 2026 membukukan surplus US$ 3,58 miliar atau sekitar Rp 64,4 triliun. Surplus ini ditopang kinerja perdagangan nonmigas yang surplus US$ 19,35 miliar, sementara perdagangan migas masih defisit US$ 15,77 miliar sehingga surplus nasional menyempit. Demikian disampaikan Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, di Kantor BPS, Senin (3/8/2026).

Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia dengan nilai US$ 8,55 miliar, disusul India US$ 6,68 miliar dan Filipina US$ 4,24 miliar. Sebaliknya, China menjadi penyumbang defisit terdalam sebesar US$ 13,61 miliar, diikuti Australia US$ 4,40 miliar dan Singapura US$ 4,33 miliar. Surplus nonmigas terbesar berasal dari lemak dan minyak hewani/nabati (HS15) US$ 17,55 miliar, bahan bakar mineral (HS27) US$ 13,61 miliar, serta besi dan baja (HS72) US$ 8,61 miliar. Defisit nonmigas terbesar dari impor mesin dan peralatan mekanik (HS84) US$ 15,93 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik (HS85) US$ 7,98 miliar, serta plastik (HS39) US$ 4,72 miliar.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 140,81 miliar atau naik 4,13% dibanding periode sama tahun lalu. Nilai impor mencapai US$ 137,24 miliar atau naik 18,69%. Meski impor tumbuh lebih cepat, Indonesia tetap mempertahankan surplus perdagangan sebesar US$ 3,58 miliar pada semester I 2026.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait