DLH Tarakan Ungkap Batu Bara Aktif Diduga Ikut Picu Karhutla
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, diduga tidak hanya disebabkan oleh pembakaran lahan, tetapi juga deposit batu bara aktif yang terdapat di bawah permukaan tanah. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan, Chaizir Zain, menyatakan bahwa potensi batu bara aktif banyak ditemukan di kawasan Tarakan Timur, termasuk area sekitar Universitas Borneo Tarakan (UBT) hingga jalur Pantai Amal. Menurutnya, batu bara di daerah tersebut dapat terbakar sendiri tanpa perlu adanya pembakaran lahan, terutama saat kondisi cuaca ekstrem seperti minimnya curah hujan dan suhu tinggi yang menyebabkan batu bara melepaskan kalor alami. Ketika kalor ini bertemu dengan angin dan semak belukar kering, asap dan api langsung muncul. Chaizir menambahkan bahwa kualitas batu bara di Tarakan relatif rendah, namun cukup panas untuk memicu kebakaran vegetasi. Untuk pemadaman, DLH menyarankan penutupan pasokan udara menggunakan foam kimia atau penimbunan tanah langsung.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNN Indonesia · 22 Agustus 2026 pukul 09.45
DLH Tarakan Sebut Batubara Aktif Turut Picu Karhutla di Kalimantan
JawaPos · 22 Agustus 2026 pukul 14.16
Karhutla Kepung Kalsel, Operasi Darat dan Udara Terus Dilakukan
CNN Indonesia · 22 Agustus 2026 pukul 14.15
Satelit NASA Tangkap Penampakan Kalimantan Diselimuti Asap dan Hotspot
VOI · 22 Agustus 2026 pukul 14.10
Presiden Prabowo Subianto Pimpin Rapat Penanganan Kebakaran Hutan di Kalimantan Barat
Berita terkait
DLH Tarakan Ungkap Batubara Aktif Diduga Ikut Picu Karhutla
Detik.com · 22 Agustus 2026 pukul 09.15
Tak Pakai Masker, Prabowo Tinjau Titik Karhutla di Sungai Raya Kalbar
Detik.com · 22 Agustus 2026 pukul 14.09
Didampingi Kapolri-Panglima TNI, Prabowo Masuk Hutan Terdampak Karhutla Kalbar
kumparan · 22 Agustus 2026 pukul 13.57
Dian Sandi PSI Posting Jokowi Lihat Karhutla, Netizen: Sindir Menhut Raja Juli Antoni?
SINDOnews · 22 Agustus 2026 pukul 13.41