Erupsi Gunung Merapi Bisa Picu Tsunami? Ini Penjelasan ESDM dan BMKG
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Badan Geologi Kementerian ESDM dan BMKG menyatakan Gunung Anak Krakatau tidak berpotensi runtuh dan memicu tsunami seperti yang terjadi pada Desember 2018. Pertumbuhan tubuh gunung pasca-erupsi 2018 masih relatif kecil, dan morfologinya telah berubah namun tidak signifikan. Tsunami 2018 sebelumnya disebabkan oleh keruntuhan sebagian tubuh gunung ke laut dalam volume besar, bukan semata-mata akibat erupsi. Hingga 6 September 2026, tidak ada deteksi kenaikan muka air laut atau gelombang elektromagnetik yang signifikan. BMGG telah mengaktifkan 20 tsunami gauge dan sistem High Frequency Radar Array untuk memantau potensi tsunami hingga 150 km dari garis pantai.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
VOI · 6 September 2026 pukul 16.05
BMKG Pantau Anak Krakatau 24 Jam, 20 Alat Pengukur Tsunami Disiagakan di Selat Sunda
kumparan · 6 September 2026 pukul 14.09
BMKG: Potensi Tsunami di Selat Sunda Rendah, Gelombang Sekitar 1 Meter
SINDOnews · 6 September 2026 pukul 11.33
Gunung Anak Krakatau Erupsi, BMKG Pastikan Tak Ada Anomali Muka Air Laut
kumparan · 7 September 2026 pukul 11.30
Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Arah Angin, dan Menanti Bandara Dibuka
Berita terkait
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Siaga 1 Megathrust? Ini Penjelasan Pakar
CNBC Indonesia · 7 September 2026 pukul 12.26
Mendagri Minta Kepala Daerah Lindungi Masyarakat dari Abu Vulkanik
CNBC Indonesia · 7 September 2026 pukul 11.38
Tubuh Anak Krakatau Kembali Tumbuh, Karakter Erupsi Dipantau Ketat
SINDOnews · 7 September 2026 pukul 10.34
Mesti Tahu! Ini Rumitnya Faktor Angin Saat Hujan Abu Vulkanik
Detik.com · 7 September 2026 pukul 10.30