Indonesia Dinilai Perlu Memiliki Sistem Energi yang Fleksibel
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industrialisasi seiring pertumbuhan ekonomi dan keberadaan tenaga kerja, namun hal ini juga berarti peningkatan kebutuhan listrik, terutama dari sektor industri. Menurut Lisa Tinschert, Direktur Program Energi GIZ, industri akan menjadi salah satu sektor yang berkontribusi signifikan terhadap peningkatan permintaan listrik. Selain industri, permintaan listrik juga datang dari pusat data, bangunan, kendaraan listrik, hingga elektrifikasi rumah tangga.
Kondisi ini membuat Indonesia perlu menyiapkan sistem energi yang tidak hanya mampu memasok listrik lebih banyak, tetapi juga lebih efisien dan fleksibel. Lisa menekankan bahwa pusat data menjadi salah satu sumber permintaan listrik yang relatif baru dan masih sulit diproyeksikan karena karakteristik beban yang berbeda. Oleh karena itu, perencanaan jaringan energi perlu memperhitungkan dinamika baru ini.
Selain itu, kebutuhan listrik dari bangunan juga akan terus meningkat, terutama untuk keperluan pendinginan di sektor rumah tangga dan industri. Sistem energi yang fleksibel diperlukan agar dapat menanggapi fluktuasi permintaan yang semakin kompleks dan beragam.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
SINDOnews · 16 September 2026 pukul 18.41
Pusat Data hingga Kendaraan Listrik Dorong Lonjakan Permintaan Energi di Indonesia
Media Indonesia · 16 September 2026 pukul 20.21
Kebutuhan Listrik Diprediksi terus Naik imbas Industrialisasi dan Kendaraan Listrik
Berita terkait
Heboh Tren Foto 80-an Pakai ChatGPT, Ternyata Bikin Bumi Makin Panas
CNBC Indonesia · 12 September 2026 pukul 14.15
Pakar: Gas Bumi Adalah Bahan Baku Ekonomi, bukan Sekadar Komoditas
Media Indonesia · 9 September 2026 pukul 19.36
Peta TKDN Mobil Listrik: Target 80%-Tak Cuma Baterai Buatan RI
CNBC Indonesia · 9 September 2026 pukul 17.10
Kemenperin Bidik TKDN Mobil Listrik 80 Persen, Industri Baterai Ikut Digenjot
Warta Ekonomi · 9 September 2026 pukul 14.30