Iran Bilang Aliansi Makkah Isyarat AS untuk Tinggalkan Sekutu Teluk
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Sekretaris Dewan Keamasan Nasional Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa pembentukan Aliansi Makkah oleh Arab Saudi, Turki, dan Pakistan merupakan isyarat bahwa Amerika Serikat (AS) akan meninggalkan sekutu-sekutunya di Teluk. Rezaei mengklaim bahwa AS memberi sinyal kepada negara-negara di kawasan untuk bersiap ketika AS akan pulang. Aliansi Makkah, yang ditandatangani pada 7 Agustus, dilaporkan memiliki klausul serangan bersama serupa Pasal 5 NATO, di mana serangan terhadap satu anggota dianggap serangan terhadap seluruh anggota.
Rezaei menegaskan dukungan Iran terhadap persatuan Islam yang lebih luas dan menyatakan bahwa Iran dan Mesir seharusnya menjadi pendiri dalam aliansi regional tersebut. Ia menyampaikan bahwa Iran tidak terlibat dalam pembentukan pakta tersebut dan bah bahkan tidak mengetahui detail apa pun dari perjanjian yang ditandatangani.
Di sisi lain, Rezaei mengancam akan memberikan balasan yang "dhsyat bak gempa bumi" jika Presiden AS Donald Trump mengambil tindakan lebih lanjut terhadap Iran. Ia juga memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak bergabung dengan kampanye ekonomi AS terhadap Iran.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Media Indonesia · 22 Agustus 2026 pukul 15.15
Presiden: Posisi Iran Kuat dan Bermartabat di Mata Dunia
ANTARA News · 22 Agustus 2026 pukul 12.26
Iran sebut sanksi ekonomi baru AS pasti gagal
VOI · 21 Agustus 2026 pukul 23.15
Presiden Pezeshkian Sebut Saat Ini Momen Tepat Akhiri Perang Iran-AS dari Posisi Kuat
Media Indonesia · 21 Agustus 2026 pukul 19.51
Presiden Iran: Kita di Posisi Kuat dan Bermartabat Akhiri Perang dengan AS
Berita terkait
Iran Murka, Negara Teluk Diperingatkan Tak Boleh Bantu Militer AS
Warta Ekonomi · 20 Agustus 2026 pukul 15.37
AS Ancam Serang Iran, Negara Teluk Bisa Gelap Gulita
CNBC Indonesia · 8 Agustus 2026 pukul 11.00
Kompak, AS dan Arab Saudi Gempur Milisi Pro-Iran di Irak
Detik.com · 29 Juli 2026 pukul 11.21
Iran Sebut Perang Ekonomi AS Resep Kembali ke Kolonialisme
SINDOnews · 22 Agustus 2026 pukul 13.32