Jakarta · Senin, 24 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

AS Ancam Sanksi Terberat Sepanjang Sejarah, Iran Beri Jawaban Menohok

Iran menegaskan tidak gentar menghadapi ancaman sanksi baru Amerika Serikat (AS) yang diancamkan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menilai ancaman tersebut merupakan pengulangan strategi tekanan yang sebelumnya gagal, dan menunjukkan AS sedang berada dalam keadaatan putus asa setelah hampir enam bulan konflik. Araqchi memperingatkan bahwa tekanan ekonomi AS tidak akan berhasil memaksa Iran untuk menyerah, dan mengajak Washington untuk berunding secara hormat jika ingin menemukan jalan keluar dari konflik.

Konflik ini telah memberikan dampak besar pada Iran, baik dari segi ekonomi maupun militer. Perekonomian Iran telah berada di bawah tekanan akibat sanksi internasional, sementara infrastruktur Iran telah beberapa kali terkena serangan. Sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari, ribuan orang telah tewas di Iran. Di sisi lain, Iran juga telah mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dengan menolak kapal tanker minyak yang tidak memiliki izin untuk melintasi jalur perairan tersebut.

Beijing menjadi fokus dalam strategi AS untuk menekan Iran, karena China merupakan pembeli utama minyak Iran yang diekspor melalui laut, dengan porsi lebih dari 80% berdasarkan data 2025 dari Kpler. Meskipun tekanan yang ada, Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan akan konsekuensi ekonomi terhadap negara yang membantu Iran. Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan bahwa Teheran telah menerima banyak pesan dari negara tetangga mengenai pembentukan pengaturan keamanan regional dan kerja sama ekonomi baru, sambil menuduh AS membahayakan keamanan sekutunya demi kepentingan Israel.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait