Perusahaan di RI Makin Terjepit Dapat Tekanan Bertubi-tubi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) memberikan tekanan bertubi-tubi kepada sektor riil di Indonesia. Pengamat ekonomi dari CORE Indonesia, Akbar Susamto, menjelaskan bahwa sektor riil sebelumnya sudah tertekan akibat ketidakpastian global, biaya produksi naik, dan permintaan lesu pasca-April 2026. Dengan BI Rate naik, bunga kredit perbankan meningkat, sehingga biaya pendanaan bagi pelaku usaha menjadi lebih mahal. Banyak pengusaha menunda ekspansi dan investasi, seperti pembelian mesin atau barang modal, karena merasa terlalu mahal.
Tekanan ini berpotensi memengaruhi pasar tenaga kerja. Data menunjukkan tingkat pengangguran pada Februari 2026 turun menjadi 4,68%, tetapi banyak pekerja beralih dari sektor formal ke informal. Akbar menilai keputusan BI adalah pilihan sulit untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, namun berdampak pada aktivitas riil. Dampak ke depan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan tersebut.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 31 Juli 2026 pukul 19.45
Aliran Dana Asing Masuk Tembus Rp 195 Triliun hingga Juni 2026
CNN Indonesia · 31 Juli 2026 pukul 15.35
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.022 per Dolar AS Sore Ini
Liputan6.com · 31 Juli 2026 pukul 12.30
BI Ingin Bank Optimal Menyalurkan Kredit
CNN Indonesia · 31 Juli 2026 pukul 11.48
BI Antisipasi Era Suku Bunga Tinggi di Tengah Ketidakpastian Global
Berita terkait
BI Tak Mau Asal Naikkan Suku Bunga, Ekonomi Bisa Terpangkas 0,1%
Detik.com · 28 September 2026 pukul 15.08
BI proyeksikan The Fed naikkan suku bunga sekali lagi di triwulan IV
ANTARA News · 28 September 2026 pukul 14.41
BI Ramal The Fed Naikkan Bunga Lagi, Berdampak ke RI?
Detik.com · 28 September 2026 pukul 13.33
BI Ungkap Kondisi Ekonomi RI di Era Suku Bunga Tinggi
Detik.com · 23 September 2026 pukul 17.48