Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Trump Ultimatum Iran: Damai atau 'Penyerahan Total'

Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran untuk memberi ruang diplomasi, namun menegaskan bahwa tekanan akan berlanjut hingga tercapai kesepakatan atau penyerahan total. Keputusan ini diambil setelah permintaan dari sekutu di Timur Tengah, dengan kerangka kesepakatan yang mencakup pembukaan penuh Selat Hormuz dan penghapusan ancaman nuklir Iran. Namun, sehari kemudian, Trump mengubah nada dengan menuding Iran bersikap munafik karena menyangkal adanya pembicaraan langsung.

Pemerintah Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa tidak ada negosiasi dengan AS yang berlangsung atau dijadwalkan, hanya pembicaraan dengan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz. Insiden terbaru melibatkan sebuah kapal kargo yang terkena proyektil tak dikenal di dekat Selat Hormuz, jalur yang melayani sekitar 20% perdagangan minyak dunia dan masih mencatat lalu lintas yang lebih rendah dari biasanya. Pola berulang terlihat, di mana Trump beberapa kali mengumumkan rencana serangan besar tetapi kemudian membatalkannya, sementara Iran konsisten membantah adanya negosiasi langsung.

Pembatalan serangan sempat mendorong sentimen positif di pasar keuangan, dengan harga minyak Brent turun sekitar 7% dan indeks Dow Jones ditutup pada rekor tertinggi. Namun, analis menilai optimisme ini rapuh, mengingat Iran berupaya meningkatkan biaya ekonomi bagi AS dan sekutunya untuk memaksa kompromi. Konflik juga meluas ke Lebanon, di mana pemimpin Hezbollah menolak kemungkinan negosiasi dengan Israel, menunjukkan bahwa ketegangan di Timur Tengah masih jauh dari penyelesaian dan Selat Hormuz tetap menjadi titik sensitif yang mempengaruhi keamanan dan ekonomi global.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait