Jakarta · Rabu, 9 September 2026Cari
WargaKonoha

Pemerintah Butuh Tambahan 15 Pabrik Bioetanol pada 2027

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penambahan 15 pabrik bioetanol pada 2027 untuk mendukung program pencampuran etanol pada bensin nonsubsidi. Tambahan kapasitas ini diharapkan menghasilkan sekitar 373 ribu kiloliter bioetanol. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan rencana ini dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI pada Selasa (8/9/2026). Proyeksi kebutuhan bioetanol untuk campuran E5 pada 2026 mencapai 333 ribu kiloliter, dan diperkirakan meningkat menjadi 681 ribu kiloliter pada 2027 jika campuran mencapai E10. Pada 2028, kebutuhan diproyeksikan mencapai 1,39 juta kiloliter dengan kebijakan E20, dan dapat mencapai 1,47 juta kiloliter pada 2030.

Untuk mendukung kebijakan ini, pemerintah berencana menambahkan sekitar 20 pabrik bioetanol pada 2028, diikuti dengan 11 pabrik pada 2029 dan 11 pabrik lagi pada 2030. Rencana ekspansi ini diperlukan karena pasokan bioetanol yang tersedia masih terbatas. Saat ini, terdapat 70.500 kiloliter bioetanol dari lima pabrik yang siap diserap oleh PT Pertamina Patra Niaga. Namun, angka ini masih jauh di bawah kebutuhan mandatori nasional yang diproyeksikan.

Program mandatori bioetanol akan diterapkan secara bertahap. E5 akan berlaku pada 2026, diikuti dengan campuran minimal 5 persen pada 2027 dengan peluang peningkatan hingga E10. Pada 2028, kewajiban campuran ditetapkan minimal 10 persen, dengan target E20 dapat diupayakan bila kesiapan pasokan dan infrastruktur memungkinkan. Program ini bertujuan mengurangi impor bensin, memperkuat penggunaan energi domestik, dan menekan emisi sektor transportasi.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait