Jakarta · Selasa, 25 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Pengamat: NU harus Jaga Jarak dari Kelompok Penguasa

Pengamat politik Ujang Komarudin menegaskan pentingnya Nahdlatul Ulama (NU) menjaga independensinya sebagai organisasi sosial-keagamaan terbesar di Indonesia. Menurutnya, posisi NU yang strategis memengaruhi stabilitas nasional, sehingga keterlibatan terlalu dekat dengan kekuasaan politik berpotensi mengaburkan fungsi moral organisasi. NU disarankan fokus pada pemberdayaan masyarakat di bidang sosial, ekonomi, dan keagamaan, serta menjauh dari arena politik praktis. Ujang mendorong lahirnya konsep 'New NU' agar organisasi dapat lebih konsisten mengambil jarak dari kekuasaan demi menjaga keadilan sosial.

Menjelang Muktamar ke-35 NU yang digelar di Jombang pada akhir Agustus 2026, Ujang berharap para pemilih dapat memilih Rais Aam dengan integritas moral tinggi dan kapasitas keulamaan kuat. Ia menekankan bahwa kemandirian NU tidak berarti anti-pemerintah, melainkan diperlukan agar organisasi tetap objektif memberikan masukan untuk kepentingan publik dan umat. Para ulama juga mendesak agar NU kembali ke khittah sebagai organisasi sosial keagamaan yang independen, dengan pondok pesantren sebagai pusat tradisi keilmuan dan penjaga nilai ahlussunnah wal jamaah.

Sementara itu, Yenny Wahid menekankan pentingnya rekonsiliasi faksi internal setelah Muktamar ke-35 untuk menjaga soliditas organisasi. Gus Lilur menyoroti potensi benturan kepentingan terkait posisi strategis tokoh tertentu di kabinet dan struktur PBNU. NU juga didorong memperluas perannya menjadi kekuatan masyarakat sipil yang berkontribusi dalam membangun perdamaian dunia.

Peristiwa ini diliput 2 media — baca rangkuman gabungannya

Diberitakan juga oleh


Berita terkait