Ketika Tingkat Bunga Menjadi Higher for Longer — and Here to Stay
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel ini membahas pergeseran paradigma kebijakan moneter AS setelah lebih dari satu dekade dengan kebijakan uang murah pasca-krisis keuangan global 2008. Yield US Treasury 10 tahun mencapai sekitar 5,04%, tertinggi sejak 2007, didorong oleh inflasi yang tetap tinggi di atas target The Fed sebesar 2%, sekaligus ekspektasi inflasi jangka panjang yang berada di kisaran 3–3,5%. Menurut penulis, kondisi ini menandakan bahwa tingkat bunga yang lebih tinggi tidak lagi bersifat sementara, melainkan menjadi keadaan normal baru akibat perubahan struktural seperti ketegangan geopolitik, peningkatan belanja pertahanan, dan lonjakan investasi sektor swasta terutama terkait revolusi AI.
Perubahan ini juga dipengaruhi oleh dinamika fiskal yang semakin ketat. US Congressional Budget Office memproyeksikan defisit federal AS mencapai 5,8% PDB pada 2026 dan naik hingga 6,7% pada 2036, menghilangkan asumsi bahwa defisit akan segeri kembali ke 2–3%. Akibatnya, permintaan terhadap Treasury semakin menuntutkan premi risiko yang lebih tinggi. Di sisi lain, relatif daya tarik Treasury sebagai aset aman juga melemah seiring dengan kenaikan yield JGB Jepang hingga sekitar 3%, memberi investor alternatif yang lebih menarik tanpa risiko mata uang. China juga menurunkan kepemilikan Treasury, meskipun tetap menjadi pembeli penting.
Dengan tekanan inflasi, defisit fiskal, dan kebutuhan modal yang tinggi, The Fed kehilangan ruang kebijakannya untuk menurunkan suku bunga secara agresif. Bahkan jika terjadi resesi, pola tradisional di mana inflasi turun dan bunga diturunkan mungkin tidak berlaku lagi akibat supply constraints, energi mahal, dan geopolitik yang tidak stabil. Akhirnya, artikel menyimpulkan bahwa konsep 'higher for longer' tidak lagi sekadar fase kebijakan, tetapi mewujudkan realitas baru di mana cost of money secara keseluruhan akan tetap tinggi, memengaruhi berbagai sektor seperti pinjaman korporat, hipotek, dan valuasi pasar.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Media Indonesia · 16 September 2026 pukul 11.22
Pengamat Optimistis The Fed Pertahankan Suku Bunga, Ini Alasannya
CNBC Indonesia · 16 September 2026 pukul 15.07
Rupiah Balik Menguat, Dolar AS Turun Tipis ke Rp17.675
ANTARA News · 16 September 2026 pukul 10.43
Rupiah melemah dipengaruhi potensi kuat kenaikan suku bunga Fed
ANTARA News · 16 September 2026 pukul 09.31
IHSG menguat di tengah kuatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed
Berita terkait
Top 3: Harga Emas Tergelincir
Liputan6.com · 12 September 2026 pukul 06.30
Wall Street Melemah, Pasar Khawatir The Fed Naikkan Suku Bunga
kumparan · 11 September 2026 pukul 06.31
Investor Cermati Potensi Kenaikan Suku Bunga, Wall Street Ditutup Melemah
kumparan · 1 September 2026 pukul 06.00
Bos The Fed Bikin Pasar Kaget, Suku Bunga AS Berpotensi Naik
CNBC Indonesia · 29 Agustus 2026 pukul 22.00