Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Rupiah Kembali Melemah, Harga Minyak dan Defisit Dagang Jadi Beban

Nilai tukar rupiah melemah pada awal perdagangan Selasa (4/8/2026), turun 32 poin atau 0,18% ke level 18.029 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di 17.997 per dolar AS. Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut tekanan berasal dari kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melebar ke sisi produksi kilang minyak. Harga minyak Brent sempat melonjak sekitar 25% sepanjang Juli 2026 setelah konflik AS-Iran menggagalkan kesepakatan damai, memicu gangguan pasokan energi dari Selat Hormuz hingga Laut Merah. Meski sempat terkoreksi lebih dari 5% pada Senin (3/8/2026) setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan militer dan menyatakan perundingan damai dilanjutkan, harga Brent kembali naik di atas US$ 84 per barel pada Selasa. Selain faktor eksternal, rupiah juga dibebani defisit neraca perdagangan domestik. BPS melaporkan defisit Juni 2026 sebesar US$ 450 juta, dengan ekspor US$ 25,46 miliar dan impor US$ 25,91 miliar. Rully menilai surplus neraca perdagangan sangat memengaruhi penguatan rupiah, sementara arus modal asing di pasar saham dan obligasi volatil. Selama harga minyak tinggi dan neraca perdagangan belum surplus kuat, ruang penguatan rupiah diperkirakan terbatas. Investor akan mencermati perkembangan konflik geopolitik dan pergerakan harga energi sebagai penentu arah nilai tukar jangka pendek.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait