Jakarta · Rabu, 26 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

China Pembeli Terbesar Minyak Iran, Apakah Sanksi AS Ancam Hubungan Kedua Negara?

Amerika Serikat (AS) baru-baru ini mengumumkan perluasan sanksi yang ditujukan untuk memutus jalur ekonomi Iran, sekaligus memberi peringatan kepada negara lain agar tidak melakukan bisnis dengan Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa tidak ada yang berada di luar jangkauan sanksi AS, dan negara yang tetap berhubungan dengan Iran berisiko dikeluarkan dari sistem keuangan berbasis dolar AS. Sanksi ini dirancang untuk menekan Iran secara ekonomi tanpa menggunakan sanksi paling keras secara langsung.

China selama beberapa tahun menjadi pembeli terbesar minyak mentah Iran. Namun, sejak penerapan blokade AS pada pertengahan Juli 2026, impor minyak mentah Iran ke China mengalami penurunan signifikan. Data kapal dari Kpler menunjukkan penurunan impor dari 1,57 juta barel per hari pada Februari 2026 ke 534.000 barel per hari pada Agustus 2026, level terendah sejak Februari 2023. Penyulingan independen China yang dikenal sebag sebagai 'teapot' menjadi pembeli utama minyak mentah Iran karena tertarik dengan diskon yang ditawarkan.

Untuk menghindari sanksi AS, minyak Iran yang diekspor ke China sering dilabeli sebagai minyak dari negara lain seperti Malaysia atau Indonesia, dengan pembayaran dilakukan dalam mata uang China melalui jaringan perantara yang sulit dilacak. Penyulingan milik negara yang lebih besar di China telah menghindari impor minyak Iran sejak 2019, namun penyulingan 'teapot' yang melayani pasar domestik tidak menunjukkan kekhawatiran yang sama terhadap sanksi AS.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait