Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Eritrea Intip Peluang di Laut Merah sebagai Alternatif Selat Hormuz

Eritrea semakin penting strategis di Laut Merah sebagai alternatif rute perdagangan maritim, terutama menyusul ketegangan di Selat Hormuz dan serangan Houthi di Laut Merah. Negara otoriter di bawah pemerintahan Isaias Afewerki mengendalikan pelabuhan strategis seperti Assab dan Massawa, yang berada di sepanjang jalur dekat Yaman yang sedang mengalami krisis. Pada Juli 2026, konsultasi diplomatik di Kairo yang melibatkan Mesir, Somalia, Eritrea, dan AS menekankan peran Eritrea dalam mengamankan rute maritim dan memfasilitasi perdagangan. Eritrea juga menjadi mitra yang ditimbang oleh negara-negara seperti Arab Saudi dan Mesir karena stabilitas relatifnya dibandingkan tetangga seperti Etiopia, Sudan, dan Yaman.

Namun, ketergantungan pada kekuatan ekstra konstitusional tunggal Isaias menimbulkan risiko. Eritrea belum pernah mengadakan pemilu umum sejak didirikan 32 tahun lalu, dan ketiadaan penerus yang jelas menimbulkan kekhawatiran akan ketidakstabilan pasca-pemerintahan. Tekanan dari Etiopia yang ingin akses maritim juga memicu ketegangan, meskipun pada Mei 2026 Eritrea dan Mesir menandatangani perjanjian konektivitas transportasi untuk memperkuat jaringan perdagangan alternatif.

Di sisi lain, krisis kemanusiaan dan mobilitas pendududesaian tetap menjadi tantangan. Sekitar 700.000 orang—setara dengan seperlima populasi—telah meninggalkan Eritrea sejak didirikan, sebagian besar mencari pelarian akibat pelanggaran hak asasi manusia, wajib militer, dan ketiadaan perspektif ekonomi. Laju pertumbuhan penduduk di bawah 2% per tahun mencerminkan kondisi sosial yang tegang.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait